Archive for April, 2005

Mourinho - An Example of a Great True Leader

Saturday, April 30th, 2005

“Now is the time to move out from limelight, and give the players time to celebrate what they deserved”

MourinhoDemikian ungkap Jose Mourinho, pelatih Chelsea, juara Liga Premier Inggris 2004/2005, tatkala diwawancarai sesuai timnya meraih tiga angka yang menjamin secara matematis tak terkejar oleh rival utama mereka, Arsenal dan Manchester United. Dengan kemenangan 2-0 di kandang Bolton Wanderers, berkat dua gol dari Frank Lampard, Chelsea meraih gelar pertama mereka di salah satu kompetisi sepakbola terberat di dunia sejak pertama kali mereka merebut gelar tersebut di tahun 1955, tepat 50 tahun yang lalu.

Dalam lanjutan wawancaranya, Mourinho tak henti-hentinya memuji semangat, determinasi dan kebersamaan timnya sepanjang musim kompetisi. Tak lupa ia menyebut nama Roman Abramovich, sebagai orang yang membuat hal ini bisa terjadi.

Abramovich? Ya, mungkin banyak orang yang juga memiliki anggapan kalau Chelsea membeli gelar juara. Ratusan juta pound dikeluarkan oleh sang milyuner Rusia untuk mendatangkan pemain-pemain kelas atas ke Stamford Bridge. Awal musim kompetisi ini saja, tak kurang dari Peter Cech, Arjen Robben, Mateja Kezman, dan Didier Drogba ditransfer dengan uang yang tidak sedikit.

Tapi menurut saya, investasi terbaik yang dilakukan oleh Abramovich bukan pada pemain-pemain tersebut, namun pada saat ia mendatangkan Jose Mourinho.

Tahun lalu, saat Mourinho membawa Porto menjadi juara Liga Champion, saya termasuk salah satu orang yang sebal melihat polah angkuh dari pelatih muda Portugal ini. Sebagai pendukung Manchester United, saya tak bisa melupakan saat peluit panjang dibunyikan di partai perempat final melawan Manchester United. Saat itu, Mourinho membuka dan mengangkat tangan tinggi-tinggi di depan pendukung Red Devils sambil berjalan menuju kamar ganti di Old Trafford. He celebrated in style. Against all people. Ia menunjukkan bahwa semangat kolektivitas timnya berhasil membungkam kumpulan pemain mahal Sir Alex Ferguson dan pendukung tim tersebut. Termasuk saya.

Masih memendam kesal, saat musim 2004/2005 baru saja dimulai, dimana Mourinho baru memulai jabatannya sebagai pelatih utama Chelsea, I really wished this guy will fail.

Now, I wish I didn’t have such wish before.

Dalam perjalanan liga kompetisi tahun 2004/2005 ini, saya baru benar-benar bisa mengamati kiprah Mourinho. Tidak hanya dalam taktik dan susunan tim yang diturunkan, namun juga dari beberapa post-match interview yang ia lakukan, dan berita-berita seputar tim Chelsea di surat kabar. Dari sumber-sumber tersebut, sadarlah saya kalau Mourinho benar-benar pelatih yang brilyan. Bukan hanya itu, he is really a great leader.

Kukuh pada Prinsip.

Mourinho, sebagaimana pemimpin karismatik lainnya, kukuh pada prinsip yang ia percayainya. Prinsipnya yang mengutamakan kolektivitas tim diletakkan di atas segalanya. Di atas Abramovich, di atas pemain bintangnya. Saat ia hendak menandatangani kontrak melatih di Chelsea, ia mengajukan prasyarat pada Abramovich bahwa keputusan untuk merekruit dan menurunkan pemain adalah mutlak hak prerogatifnya. Melatih di tim super kaya seperti Chelsea, Real Madrid, Manchester United ataupun AC Milan, dengan dukungan finansial yang begitu besar,
mudah bagi seorang pelatih untuk “tergoda” mendatangkan pemain terbaik dari seluruh dunia. Dan imbasnya, sukar bagi pelatih untuk tidak memenuhi tuntutan pemilik tim dan pendukungnya untuk menurunkan pemain-pemain yang bergaji di atas 50 ribu poundsterling seminggu. Hal ini tidak berlaku pada Mourinho.

Dalam satu wawancara ia secara terbuka menyatakan bahwa lebih memilih melatih pemain seperti Drogba atau Paulo Ferreira, daripada pemain-pemain bintang “selebritis”. Sebelum musim dimulai ia dengan berani “membuang” bintang Argentina, Hernan Crespo ke AC Milan. Kala itu ia secara terbuka menyatakan mencari karakter pemain yang mau memberikan 100% upaya untuk tim, dan yang dapat menerima tatkala ia tidak diturunkan demi kepentingan yang lebih besar.

Keputusan dan Penilaian Obyektif

Prinsip ini diiringi dengan keputusannya yang selalu obyektif. Pada awal kompetisi, Mateja Kezman, top scorer Liga Utama Belanda pada musim sebelumnya bersama PSV Eindhoven, selalu dipasang Mourinho sebagai starter. Kesulitan dalam memproduksi gol sebagaimana yang ia lakukan di Belanda, Mourinho secara obyektif mencadangkan Kezman, dan justru mulai memainkan Eidur Gudjohnsen dan Damien Duff, yang di awal kompetisi menjadi spesialis cadangan namun setiap kali bermain menunjukkan penampilan yang memuaskan sang pelatih.

Lampard_2 Ia juga tidak melulu berlaku pilih kasih menurunkan pemain “bawaannya” dari Porto. Justru tulang punggung dari tim Chelsea untuk menjadi juara pada tahun ini terletak pada tiga pemain yang notabene tidak direkrut oleh Mourinho. John Terry, Frank Lampard dan Makalele sudah menjadi starting line-up saat Chelsea masih dilatih oleh Claudio Ranieri (pelatih Chelsea sebelumnya).

Pengarah dan Motivator Ulung

Selain itu, Mourinho juga memiliki kemampuan untuk memotivasi dan mengarahkan anak buahnya. Dalam tim sarat bintang Real Madrid ataupun Manchester United, kita sering mendengar ungkapan-ungkapan ketidakpuasan dari bintang-bintangnya di surat kabar atau media lainnya atas keputusan pelatihnya. Dalam satu tahun ini, tidak pernah terdengar kabar Kezman ataupun Cudicini (kiper utama Chelsea musim kompetisi lalu) mengeluh, kendati keduanya merupakan pemain bagus yang bukan tidak mungkin dapat menjadi starter di tim lain. Hanya Joe Cole yang di awal kompetisi sempat mempertanyakan posisinya di dalam tim secara terbuka. Melihat potensi yang lebih dari diri sang bintang muda Inggris ini, Mourinho justru memberikan kesempatan lebih kepada Joe Cole, dan kini ia menjadi bagian integral squad Chelsea dalam meraih Liga Premier Inggris dan (kemungkinan) Liga Champions. Bahkan Sven Goran Eriksson, pelatih nasional Inggris, menyebutkan bahwa dirinya layak berterimakasih kepada Mourinho, karena sikap kerasnya berhasil mendidik Joe Cole untuk lebih bisa bermain sebagai anggota tim, ketimbang memperlihatkan kejeniusan bakat individualnya yang luar biasa.

Disinilah perbedaan mendasar antara tim Chelsea dan Real Madrid tahun ini. Di Real Madrid,  perbedaan kasta antara “the Zidanes” (pemain-pemain bintang impor seperti Zidane, Figo, Ronaldo, Beckham) dan “the Pavones” (pemain-pemain muda asli didikan Real Madrid seperti Pavon, Helguera, Guti, Borja) sudah menjadi rahasia umum. Dan hal ini menjadi hambatan besar tim tersebut untuk menampilkan permainan terbaiknya. Madrid sudah berganti pelatih tiga kali musim ini. Pelatih pertama Jose Antonio Camacho, dan penggantinya tidak mampu mendisiplinkan, memotivasi dan membangun semangat kerjasama antara pemain bintangnya. Real Madrid pun terpuruk di setiap kompetisi yang diikutinya, kendati memiliki segudang pemain terbaik di dunia.

John_terry Sementara itu di Chelsea, semangat kolektivitaslah ala Mourinho lah yang mendasari permainan tim. Tim berada di atas segalanya, di atas Lampard, di atas Terry, bahkan di atas Mourinho sendiri. Inilah pembeda utama dari Chelsea dengan tim-tim super lain. Chelsea memiliki Mourinho. Tim lain tidak.

Chelsea tidak membeli gelar juara dengan uang. Chelsea “membeli” Mourinho. Dan Mourinho lah yang membawa gelar juara tersebut ke Stamford Bridge.

Dan prinsip mendahulukan timnya itulah yang membuat Mourinho tidak mau terlalu diketengahkan di saat ia patut menerima pujian atas keberhasilannya. Instead, he gives all the credits to the players. What a true great leader.

I salute you, Mr. Mourinho!

Few hours past midnight on my birthday, 1 May 2005, after Chelsea claimed their first English Premier League Title in 50 years.

My Top 10 Rock Albums

Tuesday, April 26th, 2005

I grew up listening to rock music. I and my brother once had hundreds of cassettes collection, ranging from Hard Rock, Heavy Metal to Thrash Metal. We   placed Kiss, Van Halen, Motley Crue posters all over our room’s wall. When we were in college, we tried to mimic our idol by sporting long hair. I once even had a belief that "Rock is not just a music, Rock is a religion".

Silly stuffs. *grin*

But really, eventhough I know some of you may even *hate* this music, I found it until now, this kind of music brought the technical skills of their musicians to the limit, especially the guitarists. It is due to the fast tempo and "live approach" of the music (less samplings and digitized music). Most rock fans agreed that enjoying rock music is not only listening to the songs, but also witnessing the great skills of musicians, and feeling the energy when they perform it "live" (headbanging, anyone?)

For those who still don’t get it :), here I listed my "All-Time Favorites of Top Ten Rock Albums" (not in order of anything) that I will be willingly to hear over, over and over again. It is simply because there are so much to hear from these records: the songs, the skills, the energy. Check them out!

Rock never die! Salam Metal! *smile*

Van Halen - 5150 (1986)

Van_halen_5150 This is one of the first albums that introduced me to rock music. Sammy Hagar just joined the band, and he produced a classic collection, containing great, hard-yet-melodic songs featuring guitar and drums virtuoso courtesy of Eddie and Alex Van Halen.

What to Listen: Why Can’t This Be Love, Dreams, 5150

Guns ‘N Roses – Appetite for Destruction (1987)

Gnrappetitte Who knows this band before this album? Their single, “Sweet Child O’ Mine” took USA and rest of the world by storm. It is a mind-changing album, which was released in the mainstream of glam rock. Axl Rose and Slash’s controversial characters were well represented in this epic, brutal, punk rock n’ roll album.

What to Listen: Sweet Child O’ Mine, Paradise City, Welcome to the Jungle

Dream Theater – Images and Words (1992)

Images_and_words_1 It is a masterpiece of progressive rock album. Truly demonstrate how musicians’ technical skills and profound lyrics are composed in harmony. I can’t talk enough about how good is this album. I even already talked about it on my previous posting. Check out yourself. 

What to Listen: Metropolis Part I, Surrounded, Pull Me Under

David Lee Roth - Skyscrapper (1988)

Skyscrapper People may hate this album because of its “unnatural” approach to recording. David Lee Roth used all of samples and channels in music studio to produce perfectly detailed sounds. He recorded his vocals and voices in no less than 3 channels, while Steve Vai (guitars) and Billy Sheehan (bass) filled in the remaining channels with their pulsating play. The songs also include enough variety of music that can cater almost everyone’s taste. From ballad, pop rock to speed metal.

What to Listen: Just Like A Paradise, Perfect Timing, Hot Dog and A Shake

Metallica - And Justice for All (1988)

Metallica_and_justice_for_all_front_1This record won a Grammy Award for the first heavy metal record category back in 1988. Grown up from a simply garage band in L.A., this album propelled Metallica to ’supergroup’ status. Anybody who thinks Heavy Metal is not an art, should check this album first before throwing their opinion.

What to Listen: And Justice for All, One, Blackened

Extreme - III Sides to Every Story (1992)

Extremeiiisidestoeverystory After succesfully put their single "More Than Words" as worldwide hit in 1991, Extreme did not falsely fall into a trap of producing song with similar recipe. In fact they released their best album, which combined heavy metal, rock, funk and Queen-alike choir and orchestra. Nuno Bettencourt’s guitar play was as impressive as ever. Pat Badger and Paul Geary set the groove on rhythm section that beautifully assembled with Nuno’s rich exploration of sound.

What to Listen: Rest in Peace, Cupid’s Dead, Who Cares

Living Colour – Vivid (1989)

Living_colourvivid It is perhaps the band’s only significant record, but it stacked up right th ere with other great rock albums. Living Colour was a rare breed. While their other neighbors were busy in rapping and jazzing, they chose to work on different beat: rock music. But they mixed it with their music roots: funk, jazz and rap. The result was a much-talk about album in 1989. There were so much variety on its beat and groove, and Vernon Reid highlighted every song with exhilarating display of his guitars’ distorted sounds.

What to Listen: Cult of Personality, What’s Your Favourite Colour?, Glamour Boys

Mr. Big - Lean Into It (1991)

MrbigleanintoitcoverEven though it was the sweet "To Be With You" that propelled Mr. Big to worldwide artist status, the album that housed that single was far from being typical pop rock album that looked more on popularity than its musica l aspect. “Lean Into It” was arguably the best album of the band. Eric Martin, Billy Sheehan, Paul Gilbert and Pat Torpey are highly skilled musicians that could somehow integrate their individual equipment artistry into hard-but-strong-in-melody-songs. Billy Sheehan and Paul Gilbert’s then-famous electric drill songs “Daddy, Brother, Lover and Little Boy” opened up the record that set the listeners’ expectation. You will know instantly that these guys are technically good. And so are their songs.

What to Listen: Daddy, Brother, Lover and Little Boy; Alive and Kickin’, Just Take My Heart

Iron Maiden – Live After Death (1986)

Live_after_death The only “Live” album that become my all-time favorites. It includes all great (and legendary) songs by Iron Maiden circa mid 80’s. When you listened to this album, you can feel the energy of the songs and the musicians. The crowd noises made it is even powerful. By the way, one particular thing I loved about Iron Maiden was that their guitarists (Dave Murray and Adrian Smith) recorded their guitar sounds on two separate channels (left and right). I could still remember how I and my brother adjusted the balance of our sound system, just to listen the different solos and riffs from the best-duo guitarist ever.

What to Listen: The Trooper, Aces High, Running Free

Whitesnake – Whitesnake (1988)

WhitesnakeDave Coverdale, ex vocalist of Deep Purple, made fortune by releasing this record. It was sold in multiple platinum back in 1988. He actually replaced all of his band members after that, and formed a “super group” which featured first class musicians, such as Adrian Vandenberg, Steve Vai and Rudy Sarzo. However, it was actually John Sykes, another excellent guitarist, whose Coverdale actually worked with to produce this most-successful album of Whitesnake. John Sykes’ famous riffs and clean-and-melodic guitar solo sounds were really deep to be heard over, and over again. Adrian Vandenberg contributed to the most successful single from this album, “Here I Go Again”, with his (also famous) guitar solo that brought the song to different dimension.

What to Listen: In the Still of the Night, Is This Love, Here I Go Again

Giggs, Beckham dan Del Piero pun Punya KPI

Friday, April 22nd, 2005

Sebagai pemerhati sepakbola dan konsultan manajemen, saya melihat liga sepakbola profesional papan atas seperti Premiership (Inggris), Serie A (Italia) dan Primera Liga (Spanyol) adalah suatu “lingkungan kerja” yang menerapkan konsep performance management (manajemen kinerja) secara ideal.

Saya sebut ideal di sini, karena sistem manajemen kinerja di sepakbola menerapkan tiga prinsip yang menjamin efektivitas pelaksanaan sistem tersebut: (1) transparan, (2) obyektif dan  berkriteria jelas, serta (3) konsisten dalam reward and punishment-nya.

Transparan.

Kenapa saya sebut transparan? Bayangkan, dalam satu pertandingan sepakbola dalam liga-liga tersebut, siapa yang dapatRyangiggscut  melihat dan menilai performa dari seorang pemain bola? Selain pelatih sebagai “atasan langsung” sang pesepakbola, rekan satu tim dan puluhan ribu penonton pun menjadi saksi performa seorang Zidane, Vieri ataupun Gerrard. Belum lagi wartawan peliput yang tanpa tedeng aling-aling akan memuja ataupun mengkritisi performa pemain pada koran keesokan harinya. Tidak ada yang dapat menutupi kalau seorang pemain sedang bermain buruk. Kalaupun pelatih masih menaruh kepercayaan pada pemain andalannya, prinsip transparansi ini membuat para pemain harus "rela" untuk dinilai oleh siapa saja. 

Seorang Ronaldo (Real Madrid) pun kerap mendapatkan "siulan mengejek" dari pendukung Real Madrid karena permainannya dinilai tidak "berkomitmen". Anda mungkin juga belum lupa penampilan Ryan Giggs yang dianggap “di bawah standar” selama musim 2002/2003, yang berbuah cemoohan pendukung Manchester United setiap ia berlaga di Old Trafford.

Obyektif.

Memang, pelatih dapat berkomentar dengan nada "membela" anak asuhnya, seperti halnya Sven Goran Eriksson yang senantiasa membela kapten tim Inggris, David Beckham, kendati si "Goldenball" kerap menunjukkan performa yang mengecewakan pendukung tim St. George Cross. Tapi sepakbola punya KPI (Key Performance Indicators) yang obyektif dan jelas. Setiap posisi mempunyai uikuran kinerja yang dapat dinilai oleh semua orang. Kiper akan dinilai dari jumlah penyelamatan yang dia lakukan, jumlah clean sheet yang  ia peroleh. Bek, hampir mirip dengan kiper, selain dinilai dari jumlah clean sheet, juga akan diamati Beckham_cut en keberhasilan tackling dan intercept bola-bola atas sepanjang pertandingan. P.enyerang manapun tidak akan bernilai tinggi apabila dia tidak menyarangkan gol. Dan akhirnya, pemain tengah, kerap disebut sebagai posisi sentral dalam sepakbola, mempunyai banyak KPI yang bersifat campuran. Dari jumlah assist, jumlah umpan yang berhasil diberikan, jumlah tekel dan kadang juga jumlah gol yang dijaringkan.

Jadi pada saat kinerja Beckham dipertanyakan, sang skipper Inggris memiliki cara sendiri untuk menjawab keraguan kritisi sepakbola. Dalam pertandingan Pra Piala Dunia 2006 melawan Azerbaijan bulan lalu, Beckham membalas kepercayaan Eriksson dengan memberikan 1 assist, dan 1 gol untuk memenangkan timnya. Ia sadar Eriksson tak bisa senantiasa membelanya secara subyektif. Dengan mencapai 2 KPI sekaligus dalam satu pertandingan Beckham membungkam para pengkritiknya secara jelas dan obyektif.

Reward and Punishment.

Selanjutnya, apalah artinya sistem manajemen kerja tanpa mekanisme reward and punishment yang konsisten? Tim-tim profesional Eropa sudah lazim memberikan bonus kepada tim mereka apabila mereka memenangkan pertandingan. Di kompetisi klub terakbar di dunia, Liga Champion, setiap poin yang didapatkan oleh tim dihargai dengan uang bonus bagi klub dan pemain. Kadang dalam kontraknya, seorang penyerang top juga mendapatkan bonus atas setiap gol yang dicetaknya, Del_piero_cutdisamping gaji mingguan mereka. Di lain pihak, dengan prinsip transparansi dan obyektifitas di atas pula, punishment diterapkan. Anda masih ingat mengapa pemain sekaliber Christian Vieri kerap dicadangkan Inter Milan akhir-akhir ini? Rasio jumlah gol per pertandingannya yang mengecewakan merupakan KPI-nya yang tidak tercapai. Ia pun harus rela menerima konsekuensinya. Bahkan seorang "Anak emas " klub besar seperti Del Piero di Juventus, ataupun Raul di Real Madrid pun tidak luput dari punishment ini  karena penampilan mereka yang terus menerus dibawah ekspektasi. Akibatnya? Mereka pun harus rela untuk duduk di bangku cadangan!

Dan apa akibatnya apabila seorang pemain terus menerus menunjukkan kinerja yang menurun? Dia tidak hanya dibangkucadangkan, tapi harus siap dilego ke klub lain yang status elite-nya lebih rendah. Anda mungkin masih ingat nasib John Dahl Tomasson. Tidak berhasil menjadi striker subur di Newcastle United, Tomasson akhirnya dilego Sir Bobby Robson (pelatih Newcastle saat itu) ke Feyenoord, yang notabene kelas liganya di bawah liga Inggris. Ini merupakan "tamparan keras" bagi penyerang nasional Denmark ini. Tapi kemudian Tomasson menunjukkan tajinya di Eredivisie dengan menjaringkan 20 gol lebih dalam musim kompetisi 2002/2003. Reward-nya? Milan pun menarik pemain ini untuk menjadi salah satu penyerangnya yang sukses membawa Milan menjuarai Serie A di musim kompetisi 2003/2004. 

Aplikasi pada Dunia Bisnis Profesional.

Menilik tiga prinsip manajemen kinerja efektif yang diterapkan liga sepakbola profesional di atas tersebutlah, kalangan bisnis perlu memikirkan aplikasinya pada kalangan profesional bisnis.

Pengalaman saya menangani beberapa perusahaan di Indonesia banyak memberikan pelajaran bahwa buruknya sistem manajemen kinerja (karena tidak menerapkan tiga prinsip di atas) menjadi salah satu penyebab utama mengapa banyak perusahaan Indonesia susah untuk bersaing dengan perusahaan multinasional. SDM-nya tidak hidup dalam lingkungan yang menerapkan "high-performance culture". Orang malas dinilai sama dengan orang rajin. Yang berprestasi baik dihargai sama dengan yang berprestasi biasa-biasa saja. Karyawan jadi tidak terpacu untuk berkompetisi secara sehat, tidak termotivasi untuk menunjukkan kinerja terbaik. Untuk apa?

Oleh karenanya, manajemen perusahaan harus mengidentifikasi KPI-KPI yang dapat secara efektif "encourage the right behaviors". Ukuran-ukuran ini harus dinilai dan secara konsisten diterapkan "reward and punishment-nya". Kalau ada yang kinerjanya sedang di bawah standar, tidakkah Anda pikir "kritik yang keras namun obyektif", akan bermanfaat bagi diri sang karyawan dan perusahaan? Kasus Beckham di atas bisa menjadi contoh.

Sebaliknya, bila Anda punya karyawan junior yang terus menerus menunjukkan kemampuan yang melebihi ekspektasi dari Anda ataupun perusahaan Anda, jangan ragu-ragu untuk memberikan reward yang tidak hanya memuaskan sang karyawan dari sisi finansial, namun juga memberi tanggung jawab dan tantangan yang lebih pada dirinya. Jangan pikirkan budaya senioritas, kompetensi adalah hal yang paling relevan untuk menempatkan seseorang di tingkatan yang lebih tinggi. Wayne Rooney, pemain muda asal Merseyside, Inggris, karirnya meningkat pesat karena diberi kesempatan oleh David Moyes, pelatihnya dulu di Everton, dan kini oleh Sir Alex Ferguson di Manchester United untuk banyak tampil di tim utama, kendati umurnya masih di bawah 19 tahun. Pada Piala Eropa tahun lalu ia sudah memperlihatkan kepantasannya mengenakan seragam tim nasional Inggris. Reward yang memotivasi sang bintang muda-lah yang membuat ia terlecut untuk keluar dari "comfort zone"-nya.

Nah, bagaimana apabila sudah di"kritik" sang karyawan masih juga  menunjukkan performa yang mengecewakan?

Kalau saya jadi Anda, saya akan berlaku seperti Sir Bobby Robson di Newcastle. Sudah saatnya "Tomasson" anda di"transfer" ke perusahaan lain. Siapa tahu di sana dia dapat lebih bermanfaat?

Football is a beautiful game. Learn from it. 

Plasa Semanggi, 19 April 2005, 21:13

Repost: Percaya Enggak Percaya: Antara Liga Champion dan Pemilu*

Sunday, April 10th, 2005

Champleaguepemilu_4

Ini bukan judul acara TV. Juga bukan omongan seorang sahabat yang putus asa menyakinkan temannya.

Ini hanya gelengan tidak percaya dari seorang penggemar sepakbola.

Serasa belum cukup dengan tersingkirnya dua favorit juara, Arsenal dan Real Madrid, kembali kita dikejutkan oleh kemenangan fantastis Deportivo La Coruna terhadap juara bertahan Champions League, AC Milan.

"Game played out like a dream", begitu ujar Irureta, pelatih Super Depor mengomentari penampilan anak-anak asuhannya di lapangan semalam. Sementara Ancelotti hanya bisa mengeluh, "The inconceivable happened". Senada dengan komentar Quieroz, pelatih Real Madrid, "It was a very painful result for all of us".

Tentu bukan hanya Ancelotti dan Quieroz yang terhenyak dengan kekalahan ini. Para penggemar sepakbola di penjuru dunia juga tak percaya melihat hasil akhir pertandingan perempatfinal ini. Tak sedikit pula yang kecewa. Kekecewaan kepada tim yang tidak hanya sarat kemenangan bersejarah, namun juga kebesaran para pemainnya. Saat semua ekspektasi meninggi mencari pembuktian, Raul, Figo, Zidane dan kawan-kawan bermain kalah semangat dari lawannya. Justru Morientes yang memberikan pembuktian bahwa dia masih memiliki masa depan. Shevchenko, Tomasson dan Kaka tidak mampu mencari celah di tengah derasnya serangan Super Depor, justru Maldini, Cafu dan Nesta yang membuat kesalahan berujung pada gol-gol kekalahan.

Sepakbola memang aneh. Selalu ada kejutan dan hasil yang di luar perkiraan. Sayangnya, hal tersebut tampaknya tak terjadi pada Pemilu kita saat ini.

Walaupun perhitungan suara masih jauh dari final, PDIP dan Partai Golkar masih terlihat sebagai calon "finalis" yang belum tergoyahkan. Hal ini semakin dikuatkan dengan hasil prediksi LP3ES yang menyiratkan kedua partai ini sebagai pemenang. Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah fakta bahwa masih banyaknya suara-suara dari daerah "periferi" yang belum terhitung. Kalau menilik hasil pemilu yang lalu, apalagi pemilu sebelumnya, ini adalah basis Partai Golkar dengan segala sejarahnya.

Dengan demikian masihkan ada harapan untuk semangat pembaharuan?

Tampaknya masih, dengan munculnya kekuatan baru dari Partai Demokrat ataupun Partai Keadilan Sejahtera. Hanya dengan prediksi perolehan suara yang hanya berkisar 7%, mereka harus mampu membentuk koalisi oposisi dan kekuatan tandingan. Menyatukan kepentingan dan semangat untuk melakukan perubahan. Menyusun taktik dan strategi koalisi yang mampu menandingi kedua calon juara pemilu kita.

Hati kecil merasa kemungkinan ini tipis.

Tapi siapa yang menyangka Deportivo dan Monaco bisa membalikkan semua perkiraan? Rothen, Giuly, dan Morientes membuktikan bahwa semangat mereka dapat meruntuhkan kebesaran Real Madrid dan segala sejarahnya. Pandiani, Valeron dan Luque membuktikan bahwa sikap berani mati mereka melenyapkan kekuasaan AC Milan sebagai juara bertahan dan yang digadang-gadangkan sebagai tim terbaik di dunia saat ini. Jadi apa salahnya berharap pada Partai Demokrat dan PKS untuk menggalang koalisi mengalahkan sejarah kebesaran Partai Golkar dan sang juara bertahan, PDIP?

Hanya saja, kembali pada realita hidup yang dicerminkan pada sepakbola. Semalam setelah kekalahan timnya, Ancelotti menutup sesi jumpa pers dengan berujar, "It is all very strange, football gives great satisfaction and terrible disappointments". Jadi di tengah keriaan dan harapan kita akan munculnya kekuatan baru, bersiaplah untuk menerima kenyataan bahwa kekecewaan akan selalu dapat terjadi. Karena manuver politik dalam pembentukan koalisi untuk kekuasaan mungkin akan melahirkan hasil yang tak terduga dan tak terperkirakan oleh para pengamat politik**. Sama halnya dengan hasil pertandingan Liga Champion semalam. (IBeN - 8 April 2004)

*Note: Ini adalah reposting dari entry saya tahun lalu (April 2004). Setelah membacanya kembali, saya rasa menarik untuk melihat tulisan ini kembali di tengah diujinya kepercayaan rakyat pemilihnya kepada duet SBY-JK, dan euphoria Liga Champion yang kembali mengemuka.

**Note: Update one year later, dalam Pilpres 2004 beberapa bulan kemudian, koalisi SBY-JK berhasil mengalahkan kandidat partai pemenang pemilu (Golkar), Wiranto-Salahuddin Wahid, dan lima kandidat capres-cawapres lainnya. Koalisi yang terbentuk dari kandidat partai pemilu membuktikan, bahwa basis pilihan pemilih pada Pemilu lalu bukanlah pada partai, melainkan pada sosok ataupun figur.

XL Network Breakdown

Sunday, April 3rd, 2005

Today, I woke up finding out that my cell phone was not working. ‘SOS Calls Only" displayed on the monitor.

Network_breakdown As my trusted but old T610 has been with me for almost two years (not to mention it has been accidentally dropped off for number of times), I thought the problem was on my cell phone. So, I tried to shut it off and restarted it again. In the past, it worked. This morning, it didn’t.

Something was wrong with my phone.

And there goes my impulsive buying mode, "Well, time for replacement. Time to buy T650!"

Well, not so fast.

Later on, I found out that everything was normal with my phone. Because when I tried to do manual searching for network, my carrier provider network (it is XL) was not found in either my phone or my wife’s.

I waited for 2 hours, and it still did not appear. When I left my home for taking kids to the mall, it didn’t work as well. So it was not only my nearest BTS that didn’t function. It’s total network breakdown. Nation-wide perhaps.

And that made me paralyzed.

Gosh, these days, living without your mobile phone is worse than leaving your home without your wallet. As I experienced lately, I left my wallet at home when I went to the office. Guess what, I experienced insignificant impact. The only thing that I felt missing was the cash. And that was easily resolved through help from some friends. On the other hand, when it was my phone that I left at home, I was nervous a whole day. Wondering whether my clients called me. I was so ineffective. I could not locate my friend when we agreed to meet in public place. I could not easily checked the progress of my staff. And I left some bit of fun too. I could not check the latest sports news over the internet with my PDA.

The morale of story is, in this heavily connected world, network breakdown (due to any reason) is not acceptable. And the least thing you want to have is to have unrealiable network carrier. I hope this would be the last one for XL, as I’m reasonably happy with its services (customer service, connectivity, speed, quality of calls) for the past 7 years.

But having said that it made me paralyzed, I could not afford of being totally disconnected for some more hours. So I picked out a cheap prepaid card, and get connected again. Thanks God, there are lots of option out there. I’m connected again!

But this solution won’t help with the case of leaving home without a mobile phone.  So, taking advantage from continuously decreasing cost of tecyhnology, I would expect there will be a cheap disposable mobile phone in near future. Taking care of careless mobile worker like me, who easily leave or lost such important communication tool. 

Cilandak Town Square

3 April 2005 12:15 pm